Tulisan ini pertama kali terbit di tahun 2014
Apakah aku sedang berhalusinasi?
Seketika mata berkedip, aku sudah berada di negeri asing dan sedang duduk di meja persegi yang salah satu sisinya menempel pada jendela dengan pemandangan dari balik kaca yang sangat asing. Bagiku.
Kebingungan bertambah dengan kehadiran empat kaukasia yang sedang berbagi meja denganku. Tidak hanya itu, wajah mereka terasa cukup akrab. Aku mengenal mereka, tapi entah di mana. Busana yang mereka kenakan juga terlihat sangat klasik.
Jantungku berdegup kencang. Ouch… Apakah aku terlempar ke beberapa abad lampau? ‘Apa-apaan ini..’ batinku gelisah. Atau para tamu di mejaku sedang pesta kostum, dan hanya aku yang salah kostum. Aku menghibur diri.
Mataku segera menjelajahi ke sudut ruangan lainnya. Kita sedang berada di dalam kafe mungil, berdinding batu bata yang tidak diplester, khas bangunan Eropa kuno, serta pintu dan jendela bergaya Prancis. Hampir semua tamu berkulit putih begitu juga pramusajinya, mereka bercakap-cakap pelan dengan British Accent yang kental. London!!
Jantungku seolah-olah melompat keluar. Kuraih ranselku dan keluarkan gadget tablet yang selalu kubawa-bawa. Aku memeriksa sinyal Wi‑Fi. Ah, ada beberapa hotspot di sini. Tidak, aku tidak terdampar di masa silam. Aku masih di tahun 2014, dan tamu-tamu di kafe ini selain empat manusia di mejaku ini berbusana yang bagiku tampak normal. Salah satu dari tamu ada yang sedang menelepon; seorang pria muda berdasi sedang berkonsentrasi dengan laptopnya di salah satu pojok ruangan.
Aku menarik napas lega. Kuperhatikan wajah-wajah di depanku secara bergantian. Ada tiga wanita dan satu pria. Dari keempat mereka, hanya satu yang terlihat jauh lebih muda. Seorang wanita berusia sekitar awal 40 tahunan, dengan wajah sedikit angkuh, kulit pucat seperti hantu dan gaya pakaiannya sangat 200 ratus tahun lalu.
Wanita separuh baya ini berbisik ke wanita di sebelahnya, alangkah herannya ia melihat warna kulit pramusaji yang baru saja mengantarkan teh ke meja kita tidak seputihnya, aku tahu, pramusaji itu seperti wanita Eropa yang baru saja berjemur di pantai, kulit putih kaukasianya tampak sedikit gelap eksotis, mungkin pramusaji itu baru saja usai liburan musim panas berjemur di Bali, Thailand atau pulau-pulau tropis lainnya.
Bisik-bisik yang kudengar dari mulut wanita putih pucat itu ke wanita yang jauh lebih tua, “apa susahnya menggunakan payung ketika di bawah terik matahari.’” Aku tersenyum dan mulai mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
Tiba-tiba, seorang pria tua yang kelihatan lebih aneh lagi dengan bentuk kumis yang tidak lazim untuk masa kini muncul entah dari mana; “Ladies and gentlemen, I beg your pardon, I’m late.” Suaranya sedikit serak dan ia memandangku dengan sedikit canggung lalu tersenyum kaku, dan mulai duduk di satu-satunya kursi yang tersisa di meja kita. “Too many changes, there’s something strange out here… and out there… everywhere… I can’t recognize this place. I dont understand, it is very strange to see people talking to a small thin box on the road, they put that box right next to their ear and talking alone, very wild.”
Aku tertawa penuh kemenangan, tentunya di dalam hati. Ternyata, ladies and gentlemen, ini yang tersasar di zamanku. Mereka sedang mengalami kaget budaya di negara mereka sendiri.
Dan rasa penasaranku beberapa menit terakhir mulai terkuak, “Ah, silly me,” gumamku hampir tak bersuara. Bagaimana aku bisa tidak mengenali mereka, tentunya aku tahu siapa wajah-wajah ini, meski hanya melalui wikipedia atau buku dan majalah.
Alangkah sebuah kehormatan, duduk satu meja dan menikmati acara minum teh di sore hari dengan para pujangga dan penulis Inggris ternama dari zaman yang berbeda-beda di satu waktu. Alangkah surreal!
‘It is impossible for a living being to communicate with the dead, well, here I am now. I am communicating with a group of dead spirits. Is it for real?’ aku bertanya dalam hati.
“Hello, young lady..” salah satu dari mereka menyapaku dengan gaya the queen English “Delighted to meet you, do you like the tea??”
Good afternoon, and here are the people…….
Pujangga & Penulis Dunia Tersohor Sepanjang Masa

Tokoh pertama adalah William Shakespeare, beliau yang tertua di perjamuan ini, meninggal di tahun 1616, awal abad ke 17. Merupakan sastrawan terbesar sepanjang sejarah Inggris, yang karya-karyanya menjadi bacaan wajib bagi murid di Inggris sampai Amerika. Siapa yang tidak kenal Romeo and Juliet?
Jane Austen, wanita Inggris yang hidup pada abad ke-18, tidak begitu panjang usianya. Sayang sekali, di usia 41 tahun ia harus meninggal karena sakit. Padahal, untuk wanita di zamannya, ia termasuk penulis yang sangat kritis dan tajam mengkritik keadaan sosial tentang nasib wanita yang berhak menentukan nasib hidupnya sendiri. Status sosial wanita menjadi isu moral pada zaman itu di dunia Barat.
Aku ucapkan terima kasih yang sangat dalam kepada Sir Arthur Conan Doyle yang telah menciptakan seorang detektif eksentrik, Sherlock Holmes. Tokoh fiktif ini sangat digemari zaman itu, bahkan ketika Sir Conan mematikan tokoh ini, banyak pembaca di Inggris yang protes, atas desakan penggemarnya, tokoh ini dihidupkan kembali, terbitlah ‘The Return of Sherlock Holmes’. Sir Conan lahir pada tahun 1859 dan meninggal tahun 1930, di Inggris.
Yang terakhir Agatha Christie dan Enid Blyton. Dua wanita Inggris ini hidup pada masa yang sama, era Victoria dan meninggal pada jarak waktu yang tidak begitu jauh, Keduanya merupakan pengarang favoritku sejak kecil, aku menghabiskan masa kecil dengan membaca kisah petualangan lima sekawan, kehidupan asrama Malory Towers karya Enid Blyton. Hal yang masih teringat: istilah minuman ‘Lemon Jahe’ di buku-buku tersebut dan aku menamakan kucing kesayanganku, Timmy. Mengambil nama dari anjing pintar dalam serial Lima Sekawan
Sampai sekarang, gelar ratu penulis kriminal di dunia masih menjadi milik Agatha Christie. Karyanya termasuk yang paling laku sepanjang sejarah, setelah William Shakespeare. Tokoh detektif terkenal yang ia ciptakan adalah Hercule Poirot dan Miss Marple. Antara dua ini, aku jauh lebih suka dengan Tuan Poirot, seorang detektif Belgia yang terkenal dengan istilah ‘sel-sel kelabu’-nya.
Rak Bukuku & Karya Satra dari Inggris

“Ladies and, Umm, Sir, I’d like to say thank you to you all, because I can’t deny it that you have made me who I am today.”
Pengakuan sederhanaku menarik perhatian ke lima penulis besar ini, ekpresi wajah mereka antara heran, kagum dan tersanjung. Beberapa dari mereka membalas kalimatku dengan senyuman ramah dan bersahabat, lalu menunjukkan ketertarikan lebih jauh.
Aku memulai cerita bahwasanya di negaraku, Indonesia,- nun jauh di selatan sana, sedang menyelenggarakan kompetisi blog yang pemenangnya akan diajak ke ‘amazing UK trip’ bersama Mister Potato.
“Mister What?” tanya Enid Blyton, matanya menyipit.
“Potato, it is a kind of potato chip, the brand name is Mister Potato.” Jelasku singkat.
Ekpresi mereka tampak masih belum puas dengan penjelasanku, mungkin di zaman mereka keripik kentang jenis ini belum ada, dan segera aku keluarkan beberapa kemasan Mister Potato dari dalam ransel dan menunjukkan ke mereka. Jane Austen dan Agatha Christie meraih Mister Potatoku dan mengamatinya dengan membolak-balik seraya membaca ingredien di belakangnya.
“Look, this mister Potato’s mustache looks like yours!!’ Sorak Jane Austen tertawa, pipinya semburat merah jambu. Ia menunjuk-nunjuk kumis Mister Potato ke William Shakespeare dan Sir Conan. Beberapa dari kita tertawa dengan kespontanan Jane Austen.
Sir Conan dan William Shakespeare meraih dua kemasan Mister Potato dari genggaman Jane Austen, kemudian mengamati maskot Mister Potato dan saling berpandangan, salah satu dari mereka menyobek bungkusan Mister Potato dan memilih satu keping dari keripik kentang, mengendusnya terlebih dahulu sebelum melumatnya ke dalam mulut. Terdengar suara deraian keripik pecah ketika diremukkan oleh geligi. Sir Conan tersenyum.
“Umm, it’s delicious, kind of crunchy stuff, you should try it,” ia menyodorkan Mister Potato ke pujangga lainnya. Mister Potato menemani acara minum teh kita sore itu. Tampak mereka menyukai keripik kentang ini.
“And what’s our role in your competition?” tanya Sir Conan sambil menjilati jarinya yang berlumuran bumbu lezat Mister Potato.
Aku mulai menjelaskan kalau peserta diminta untuk menulis sebuah tulisan bebas dengan tema; “Kenapa Saya Harus Pergi Ke Inggris?” dan alasanku, jika aku tidak pernah mengenal karya-karya sastratwan Inggris yang sedang minum teh bersamaku sore ini, menghabisi masa kecilku membaca buku-buku terjemahan karya mereka, mungkin aku tidak akan pernah punya minat untuk membaca buku, dan tidak akan pernah mengenal Inggris lebih awal.
Aku sudah gemar membaca sejak kecil. Yang kuamati, orang yang suka membaca tidak begitu punya masalah dalam mengurai dan mengolah kata, membentuk kata-kata tersebut menjadi kalimat-kalimat panjang dan menggabungkannya ke dalam sebuah prosa. Dengan membaca, kosakata akan menjadi lebih kaya, memperluas wawasan dan membuat kita menjadi kritis dalam berpikir karena membaca memberi waktu kepada otak untuk menganalisis informasi yang sedang kita terima, serta menyimpulkan dan memvisualisasikan informasi itu dalam versi masing-masing, menciptakan daya khayal sendiri.
Tahun 2010, aku mendapat beasiswa summer course ke salah satu negara Eropa Barat, dekat Inggris, karena artikel yang kutulis. Lalu, aku sempat beberapa kali menulis untuk website di bidang pariwisata, dan baru-baru ini, tulisanku terpilih ke dalam 18 terbaik yang akan dibukukan oleh sebuah penerbit besar di Yogyakarta
Seandainya aku tidak pernah mengenal sastrawan dan sastrawati ini, mungkin minat baca ini tidak akan pernah tumbuh dan tentunya aku tidak akan pernah memperoleh penghargaan di bidang tulis-menulis ini.
“You meant a lot to me in this matter, such a stimulator, “mengakhiri pidato singkatku.
“So, you want to tell us that you are an aspiring writer?” Tanya Enid Blyton.
“sort of” anggukku dan meyakinkan mereka dengan menambahkan, “but I still need to learn and read more, more and more.”
“Good,” sahut salah satu dari mereka, diikuti dengan anggukan setuju dari yang lainnya.
“By the way, what is a blog?” Tanya Agatha Christie setelah menyeruput tehnya.
Aku terpaku dengan pertanyaan Agatha Christie, karena ia seorang penulis detektif tidak heran ia punya pertanyaan menyelidik dan ingin tahu. Masalahnya, tidak mudah menjelaskan kepada para penulis ini apa itu blog, karena zaman mereka hidup belum ada internet.
“Hmm, it’s not easy to explain this to you, I don’t even know where to start” ujarku pelan sedikit putus asa. Ketidaknyamanan mungkin terbaca di wajahku, tiba-tiba ide itu muncul; “Okay, look at this” aku memamerkan tabletku ke mereka.
“Oh, that box is bigger, I’ve seen the small ones just now, people on the road talking to it, nonsense!!” Sela William Shakespeare menggeleng-gelengkan Kepala.
“Sorry for making you so confused. Akuku meneguk ludah “Blog is a media where you can type an essay, poetry, etc, and publish them on the internet, and you can access the internet through this ‘box’” aku menjelaskan dengan memperagakan tabletku.
“Net?? Inter-net??” ulang Sir Conan. “Never have I heard of such a thing”.
“Yes, how can it be so absurd?” seru Jane Austen, matanya membesar.
“And you don’t need a typewriter to type it??” Tanya Agatha Christie dan Enid Blyton bersamaan.
William Shakespeare dan Jane Austen saling berpandangan dengan istilah mesin ketik yang baru saja mereka dengar.
“No, you can type all in this tablet, with touch screen technology” aku mulai menyalakan perangkat tabletku, sinar dari layar tablet membuat mereka terkesima dan semakin takjub. Aku membuka program Windows dan menjelaskan kepada mereka tentang Microsoft Word yang sangat membantu penulis zaman sekarang, mempermudah penulis dalam mecurahkan ide-idenya, “You can edit and delete your words without spending paper and ink. Then you can save it safely, in this tablet.”
“Wow, so magical!!” said William Shakespeare, “I’ve never imagined this box is very worthwhile.”
“Ehmm, what a lucky generation you are,” Sir Conan berdeham dan berfilosofi.
“Yes, in my era we wrote in A quill pen” Jane Austen berujar kesal sambil mengeluar tinta bulu miliknya, aku meraih tinta bulu milik Jane Austen, mengamati dan meletakkannya disamping cangkir tehku.
“Yes, I can imagine, especially you, Sir,” mataku mengarah ke William Shakespeare, “You are just jumping from 400 years, way back in the 17th century”.
“Time … thou ceaseless lackey to eternity.” Gumam William Shakespeare dalam bahasa Inggris yang terdengar sangat kuno.
“And anything else the internet can do, besides ‘typing’??” Tanya Agatha Christie semakin ingin tahu.
“Of course, we can look up millions of information in it” aku membuka wikipedia, dan mengetik ‘agatha christie’, dan mereka saling berkomentar satu sama lain dan wajah Agatha Christie tampak sedikit bersemu merah ketika membaca kisah pahit dengan suami pertamanya.
“Amazing, Wikipedia is like a mini encyclopedia, mobile library.” Enid Blyton memberi pendapatnya dengan mata berbinar.
“We call it that we’re living in the digital age,” aku menyimpulkan dengan yakin.
“So, you don’t need a paper book anymore, since you can get it in ‘digital?” Tanya Sir Conan.
“Of course not, Sir. This tablet is not long-lasting; I need to charge it when it’s low on battery. Then it can break or be out of order. The conventional book is still irreplaceable. I still love the smell of old books.”
Sir Conan tersenyum lebar dengan jawabanku, dan ia menawariku untuk mengunjungi toko-toko buku di London keesokan harinya. Aku menyambut tawarannya dengan senang hati, lalu mengutarakan maksudku untuk singgah di 221 Baker Street. Tentunya Sir Conan tahu lokasi itu, tempat yang ia ciptakan sendiri di dalam cerita petualangan detektif Sherlock Holmes.
Tiba-tiba Jane Austen menanyakan apa yang membuat aku tertarik dengan tulisannya.Dan aku jelaskan kalau aku menyukai topik dan karakter-karakter yang diciptakannya.
Tokoh wanita yang diciptakan Jane Austen cukup tidak lazim di zamannya, wanita mandiri dan mempunyai sikap yang teguh.
Aku bercerita, “Sadly to say, in my country, in this digital age, we women are still experiencing what women in your era had to face. It means we’re 200 years behind our current civilization.”
Mulut Jane Austen tampak terbuka lebar dengan kata-kataku yang terlontar tajam; ia tampak menjadi semakin tertarik.
“I mean, in my society—in this year, this century—when women decide not to get married, their big family and society will keep questioning their decision or judging them. Don’t you think it’s annoying when your private life is everyone’s business??”
“Indeed!!” said Jane Austen. “I don’t necessarily need a man to complete me.”
“I’m more aware sometimes. You’re like a mirror for me. I think we have much or little in common…” Aku menatap Jane Austen. “My cats completed me for now.”
Diam-diam aku melirik perubahan raut wajah William Shakespeare ketika aku menyebut ‘kucing’; ia bergidik ngeri. Dari sebuah artikel di Internet yang aku baca, William Shakespeare termasuk tokoh terkenal yang membenci kucing. Aku tidak bisa menghakimi kenapa ia benci kucing; mungkin karena ia hidup hampir 500 tahun yang lalu. Ada zamannya di Eropa nasib kucing sangat tidak beruntung. Mereka dibunuh karena dianggap bekerja dengan penyihir, yang mengakibatkan wabah pes melanda Eropa dan membawa kematian massal, karena tidak ada kucing yang sanggup membasmi tikus secara alami.
Sir Conan berdeham “Ehm, I’m wondering why there are no people smoking pipes in this cafe?? “gumamnya pelan. Mungkin ia tidak tahu, zaman sudah sangat berubah. Hampir di semua negara maju, peraturan merokok diperketatkan. Dengan majunya ilmu kedokteran, penduduk di negara maju semakin dididik akan bahaya merokok bagi perokok dan orang di sekitarnya. Tapi aku urungkan niat untuk menceritakan fakta ini.
“Ladies,” I said Agatha Christie and Enid Blyton, have you heard of The Beatles??”
“Of course, we know them,” sahut Agatha Christie dan Enid Blyton hampir bersamaan.
“Across the Universe is one of my favorite songs of theirs,” laporku tanpa ditanya.
Agatha Christie berkata lirih, “Yes, we lived in hard times, the Cold War and the Vietnam War—I like the song ‘Imagine.’ It brings peace to the world, though it’s only the music.”
“Me neither,” aku mengiyakan. ” Maybe you don’t know the bad news about John Lennon?”
Agatha Christie dan Enid Blyton saling berpandangan, kosong tanpa ide. Tentu saja, mereka meninggal lebih awal daripada John Lennon.
“In 1980, he got shot by his fanatic fans in front of his apartment in New York.” Tampak ekspresi terkejut dan tidak percaya dari kedua wanita ini, “It’s very tragic, isn’t it?”
“Yes, it is. I can’t believe this.” Suara Agatha Christie terdengar sangat terpukul.
“Maybe it would be a great idea if you joined me in visiting The Beatles museum tomorrow?? Could you please?” Aku menyarankan, mereka tampak senang dan semangat.
“It will be extremely pleasing,” sambutnya.
http://en.wikipedia.org/wiki/File:The_Beatles_Story.jpg[/caption]
William Shakespeare yang dari tadi sibuk membaca tulisan-tulisan kecil dibagian belakang kemasan Mister Potato mungkin sangat bingung dengan perubahan gaya bahasa di zamannya, kembali membuka suara;
“I think, as the oldest old person here, I admit it—that I don’t recognize this land anymore. I passed the massive clock on a tower this morning, and I’d love to see it again.”
“Do you mean ‘The Big Ben??” tanyaku menahan kikik tawa.
“Whatever you mention, shall we go there together with this group?” William Shakespeare tampak yakin dengan idenya.
“Why not?” Teriakku gembira. “I’m being surrounded by notable ladies and gentlemen, and, to be honest, before talking with you, I was totally afraid I wouldn’t say anything worthwhile. It’s an indescribable feeling, having you all here with me.”
Pada akhirnya kita memutuskan untuk melakukan ‘amazing UK trip’ bersama ke lima penulis ini, kita akan mengunjungi Buckingham Palace, Trafalgar Square, Westminster Abbey, London Eye dan beberapa stadion sepak bola terkenal di Inggris Raya.
Sir Conan menepuk bahuku lembut, dan berkata; “Thanks for joining us…….” Aku tersenyum dengan mengedipkan kedua mata, buliran kristal bening karena bahagia menggenangi kelopak mataku.
Dan tiba-tiba!!!
“Ohhh, Damn!!!!!!” seketika mata berkedip aku kembali ke dunia nyata, tampak pramusaji berseragam American Fastfood menghalangi pandanganku.
“Mejanya bisa dibersihkan, Mbak,” tanyanya seraya membersihkan mejaku dari piring yang penuh dengan tulang-tulang ayam yang berserakan.
Aku kecewa dengan kenyataan yang ada “Silahkan, Pepsinya jangan.. masih penuh” imbuhku menahan kesal dan masih tidak rela menerima kenyataan pahit, ternyata aku hanya sedang berhalusinasi di depan layar komputer dengan microsoft words yang masih sepi dari huruf.
Aku sedang dikejar ‘deadline’ untuk mengirimkan kompetisi blog yang diadakan oleh Mister Potato.
Program Microsoft Word siap untuk ditulis. Lalu, aku mulai mengetik. Kenapa saya harus ke Inggris (gratis dong)?
Because they cost me a fortune to be there !!!
Dan tiba-tiba mataku tertegun dengan sebuah benda tipis dengan bulu angsa di badannya tergeletak di sebelah gelas Pepsiku. Aku mengambilnya dengan sedikit ragu-ragu, “Jane Austen” bisikku sedikit bergidik ngeri seakan tidak percaya.
Dear Mister Potato, tulisku. Tolong antar aku ke Inggris, entah kenapa, tinta bulu angsanya Jane Austen berada di mejaku, di Indonesia, seharusnya di London. What a surrealist circumtances??
Hello Mister Potato
Kucingku sering lupa diri kalau ia hanya kucing, bahkan ia suka Mister Potato.

