Tulisan ini pertama kali dipublished tahun 2018
Politik yang Bergejolak
Tiga hari sebelum keberangkatan ke Iran, terdengar berita kalau negara ini sedang demonstrasi besar-besaran di beberapa kotanya. Donald Trump di tiap cuitannya membuat suasana hati semakin gundah dan tak jelas. Belum lagi pendukung Trump garis keras gemar menyebarkan berita dan foto palsu tentang keadaan Iran di sosial media, membuat Iran tampak chaotic, foto-foto yang disebarkan banyak yang bukan foto sebenarnya. Melainkan foto demonstrasi di Bahrain beberapa tahun yang lalu. Yang tadinya demonstrasi tentang kenaikan harga barang dan berbaur tentang menuntut pemerintahan sekuler demokratik.
Meskipun tiada keraguan untuk membatalkan tiket, namun ada drama lain yang bikin saya panik, malahan kepanikan akan suasana demonstrasi di Iran terlupakan, topik paniknya berganti ke masalah visa. Salah seorang teman nyeletuk, meski paspor Indonesia hanya membutuhkan VoA, tapi kita juga harus mendaftar online dan dapat track code untuk ditunjukkan ke petugas VoA di imigrasi. Tidak lebih dari 50 jam menuju Iran, Saya akhirnya mulai panik.
Visa Drama
Menjelang pukul 2 dini hari kalang kabut mengisi form di website untuk e-visa. Pastinya dalam keadaan ngantuk dan harus bangun pagi untuk ngantor. Keesokan harinya menjelang makan siang, sebuah email mendarat yang isinya mengecewakan.
Your visa application has been rejected.
Your sincerely,
Reason for rejection: Please apply via travel agency.
Department of Electronic Visa,
Ministry of Foreign Affairs.
Islamic Republic of IRAN “
Lesson Learned; Jangan mengisi Visa form saat lagi ngantuk yang bikin petugas embassy tepok jidat, duh cape deh; please urus sama Travel Agency. Kalau saya bocorin kekeliruan apa yang saya tulis, pasti bakal pada ngakak!!
Off to Iranian Consulate in KL
Dan tidak ada jalan lain, yang rencana awal saya berniat naik bus ke Kuala Lumpur pagi sebelum penerbangan, sepulang ngantor, segera bergegas menyandang backpack ke Golden Mile Complex, Singapore untuk beli tiket bus langsung ke Kuala Lumpur.

Setiba di Terminal Bandar Tasik Selatan paginya, saya langsung menyimpan backpack ke locker yang tersedia di terminal, tanpa mandi hanya cuci muka dan gosok gigi menuju Konsulat Iran di Kuala Lumpur, tidak begitu jauh dari Bukit Bintang.

Konsulat Iran di Kuala Lumpur
Setiba di Konsulat, saya harus mengisi formulir yang terdapat dua pilihan dalam Farsi dan Inggris juga menyertakan pas foto berlatar belakang putih, tidak harus mengenakan hijab. Setengah jam kemudian nomor antrian saya dipanggil. Seorang pria muda Iran dari balik kaca pembatas tersenyum ramah dan bertanya ada masalah apa. Saya mulai mengungkapkan kegelisahan kalau pukul 7 malam ini saya harus terbang ke Iran, tapi e-visa saya ditolak.
Ketika ia melihat paspor Indonesia saya, si petugas langsung tersenyum tenang.
No, you don’t need an e-visa. Once you land in Iran, find the VoA counter, pay the VoA & health Insurance, and then enjoy your trip.
Horeee, gitu doang!!! Satu masalah terselesaikan. Dengan wajah berseri meski belum mandi saya beranjak dari konsulat dan rencana berikutnya menukarkan Singapore Dolar ke USD dan Euro.
Lupa ke Money Changer di Singapura
Bodohnya saya tidak menukarkan SGD ke USD/Euro waktu di Singapura. Hasilnya, SGD saya harus ditukarkan ke Ringgit terlebih dahulu dan baru ke Euro atau USD, tentunya jumlahnya jadi menciut. Beginilah kalau jarang ‘main’ ke money changer. Ketika traveling, saya jarang bawa cash bergepok-gepok, hanya ke ATM di negara bersangkutan dan menarik uang secukupnya.
Masalahnya, karena Embargo Amerika, Iran menjadi ‘Cash Country’. Perbankan Iran mendapatkan sangsi dari negara adi daya akibatnya Bank dari luar Iran tidak berlaku di Iran, otomatis orang asing tidak bisa menggunakan ATM atau Kartu Kredit. Jadi, kalau ke Iran, bawa uang yang cukup, dan bijaksana dalam mengatur keuangan, jangan sampai habis sebelum perjalanan usai.
Ticket Counter yang Menyebalkan
Dua setengah jam sebelum pukul 7 malam terjadi drama baru yang menjengkelkan ketika check in di Air Asia.
Si petugas nanya: “Is this your first time traveling to Iran?”
Ya, saya jawab jujur.
Lalu si petugas wanita ini mulai bertele-tele, “sorry, do you have a visa to Iran?”
“No, an Indonesian passport only needs a VoA at the airport” Si petugas mulai menyebalkan, saya yang belum makan sejak pagi mulai menahan kesabaran.
“Sorry, I’m not sure whether you can travel to Iran without a visa, let me check first”.
Saya mengeluarkan 2 formulir yang sempat saya isi di Konsulat Iran tadi pagi, formulir saya dihiraukan, dia sibuk nelpon-nelpon nanya sana sini ke kolega yang tidak jelas, apakah paspor Indonesia memerlukan visa ke Iran.
Jadi kasarnya, ia tidak percaya dengan saya dan menganggap saya bohong. Oh shit. Ibarat singa lapar saya mulai ngotot;” What else do you want to know? I’ve just come back from the Iranian Consulate in KL this morning, and the officer said, ‘I DON’T NEED ANY VISA TO IRAN, only a VoA later once I arrive in Tehran!!”
“Will I receive my boarding pass soon? This is wasting my time; I haven’t had a proper breakfast or lunch yet, and I have an 8-hour budget flight ahead, which means no proper meal. I am feeling very hungry now.” Dan akhirnya terdengar obrolannya melalui pesawat telpon;
“Oh, so no need visa in advance. Ok, thanks..” Dan ia minta maaf,“Oh sorry” dan padahal, boarding pass saya sudah dicetak sebelum ia mengulur-ngulur waktu dengan pertanyaan bodoh apa saya perlu visa, dan pertanyaan terakhir yang rasanya mau saya cakar-cakar sampai berdarah-darah “Do you have 45 euros for VoA?”
Dengan sedikit sombong saya terpaksa menyahut;“Not only 45 euros, but I also have at least a thousand euros with me right now.” dan dia membalas“I’m sorry.”
Kadang nggak ada salahnya menjadi sombong, atau mungkin..
‘Sombonglah pada tempatnya’, Rahma, 2018.
“Yeah, no worries; I’ve just lost my 20 minutes for my very late lunch.” Saya membalas seraya mengambil boarding pass.

Kadang petugas AirAsia di Malaysia bisa sangat menyebalkan tapi apa daya kita butuh Pesawat Budget nya. Selalu menganggap rendah seolah-olah turis berpassport Indonesia tidak mampu traveling. Hanya keluar negeri untuk jadi buruh. Saya sedikit kesal sambil menghabiskan my very late brunch.
Breakfast, Lunch and Dinner


Saat di garbarata menuju kabin pesawat, sebagian besar penumpang rupanya berkebangsaan Iran, mulai terdengar alunan merdu bahasa Farsi dan wajah yang rupawan, sebagian besar wanita Iran di pesawat tidak mengenakan hijab.
Mendarat di Tehran
Delapan jam kemudian pesawat mendarat di bandara Imam Khomeini, sebelum turun dari pesawat, semua wanita Iran mulai mengeluarkan kain kecil dari tas mereka dan mengenakan hijab, begitu pun turis wanita lainnya, pramugari dan saya, turun dari pesawat beberapa penumpang asing mengantri untuk beli insurance dan Visa on Arrival.

Proses VoA agak alot namun pasti. Satu jam kemudian Petugas imigrasi bahkan keluar ruangan memanggil nama saya dari Indonesia, seperti sedang pembagian raport, petugas imigrasi mengajukan beberapa pertanyaan seputar kunjungan saya ke Iran.
Imigrasi di Tehran & VoA
“Is this your first time in Iran?? What’s the purpose of your visit, and where are you going to stay?”
Dengan gaya meyakinkan saya jawab “Yes, it’s my very first time. For the holiday, I’ll visit the historical sites. First, I’m going to stay at the See You in Iran hostel in Tehran for a few days. (sambil memperlihatkan print out booking email dari hostel), Then I’ll travel to the south and back to Tehran for my flight back home.”
Si petugas mengangguk dan balik masuk keruangan. “Wait here”
Seraya menunggu e-visa diproses tampak sekelompok wanita berumur mengenakan jubah hitam berjalan disekitaran imigrasi, ekspresi wajah mereka kaku seperti kayu, saya tidak nyaman memandang mereka, the latter I knew they were morality police.
Tak lebih dari 10 menit kemudian, nama dan negara saya dipanggil, lalu passport dibagikan. Saya buka lembarannya, sehelai stiker Iranian Visa terlekat dengan rapi. Langkah selanjutnya, ke petugas cap passport. Lebih kurang 2 menit, passport dicap. Petugas tersenyum, saya pun mebalas senyuman dan meraih beberapa permen yang sengaja disuguhkan di meja imigrasi.
Asuransi; 20 Euro || Visa on Arrival untuk Indonesia; 45 Euro
Rial & Toman, mata uang Iran
Bandara Imam Khomeini tidak begitu besar dan setau saya hanya terdiri dari 2 lantai. Saya hanya menemukan 1 kamar mandi wanita di lantai dasar, dan beberapa kafe. Hal yang menarik, menukarkan Euro di money changer bandara ini lebih menguntungkan.

20 Euro = 1.900.000 Rial

Ketika saya check di applikasi ipad, seharusnya hanya 1.200.000 Rial. Aneh, karena ‘katanya’, dan menurut pengalaman saya, rate menukarkan uang di money changer bandara biasanya menyakitkan.
WiFi & SIM Card
Di bandara Imam Khomeini, ada dua free WiFi; Asiatech.Ir dan Ikac Free WiFI, ada bedanya ternyata. IKAC-Free-Wi-Fi untuk warga Iran, sedangkan Asiatech untuk turis asing. Kalau ingin mengaktifkan Free Wifi dan bingung dengan bahasanya, easy, cari information counter yang petugas dan mejanya bernuasansa kuning, beberapa menit kita bisa terhubung dengan internet.


Gak perlu mati gaya. Atau, tak jauh dari Information Counter, kita bisa beli Kartu Perdana dan harganya tidak mahal sama sekali. Yang dibutuhkan hanya paspor dan tentunya handphone. Mereka juga punya Prepaid Tourist SIM 4G (Yang sepertinya, kita perlu minta tolong sama orang Iran untuk mengatur settingan 4G untuk aktif. Kalau nggak, sepertinya.. internetnya tetap lemot.)

Harganya dalam Rial dan Toman. Meski katanya Iran itu aman dan sangat ramah sama turis, common sense dalam traveling jangan sampai diabaikan atau jangan terlalu naive. Karena saya mendarat di Iran tengah malam buta, seorang diri pula, tak kenal siapa-siapa dan suhu udara di luar sekitar minus 1 atau 3. Saya memilih untuk menunggu sampai fajar untuk menyewa taksi ke pusat kota Tehran.
Wait, Naik Metro Saja ke Tehran
Bayangkan, saya yang bawa uang cash dan lokal pun tahu, kita, turis pasti bawa uang tunai ke negara mereka karna embargo, kejahatan bisa saja ada. Dan jarak dari bandara ke pusat kota lebih kurang 50 km. Untungnya bandara di Tehran buka 24 jam, dan banyak penerbangan sampai pagi. Bahkan kafe-kafenya buka 24 jam.
Menanti pagi di bandara, ada beberapa bukan taksi resmi bandara menawarkan jasanya. Saya selalu jawab jam 7 pagi, dan bahkan sampai ada ibu-ibu yang mau share taksi dengan saya. Menolaknya susah banget.
Sepertinya normal di Iran berbagi taksi dengan orang asing. Mungkin ini menandakan mereka saling percaya, saya yang pernah lama hidup di Jakarta agak susah untuk menerapkan berbagi taksi dengan orang asing, kita sangat prejudice terlebih ke orang asing.
Diam-diam si penjual SIM Card membisikkan, “because you are a foreigner, it’s better you take an airport taxi.”
Tak lama kemudian saya mencari tempat mojok jauh dari bujukan dan rayuan supir taksi di bandara. Tampak seorang pria Asia Barat dengan sedikit brewokan sedang mencharge gadgetnya, dan tak lama kemudian kita berkenalan yang ternyata ia orang Turki yang fasih berbahasa Melayu dan Indonesia. Saya merasa beruntung bertemu dengan pria Turki ini, kita mengobrol banyak topik tentang Iran, Turki, Indonesia dan Malaysia, menghabiskan dini hari di bandara Tehran. Ia juga memberi saya tips tentang Iran, menganjurkan untuk naik Metro ke pusat kota.
Metro mulai beroperasi pukul 7 pagi. Membeli tiket Metro hanya 50.000 Rial atau 5000 Toman dan bisa dipakai berkali-kali untuk bus dan metro. Sedangkan kalau naik taksi, minimal 750,000 Rial dari bandara ke pusat kota, berarti saya hemat 700.000 Rial.


Karna saya nggak terburu-buru, kenapa tidak naik metro? Dari bandara kita berjalan menuju Imam Khomeini Airport Station, tidak begitu jauh dan meski kita melewati jembatan ke airport station, syukurnya jembatan yang kita lewati indoor bridge. Bisa mati beku kalau jembatannya outdoor di suhu pagi yang saya rasa lebih dari minus 3. Bahkan waktu kita bicara, keluar uap dari mulut yang menyerupai asap. Ahh, dasar orang Tropis norak. Saya suka negara 4 musim, kita jadi lebih banyak belajar ilmu alam; fisika dan kimia dari perubahan musim saja.
Cara hemat menuju pusat kota yang jaraknya lebih kurang 50km, waktu operasi Metro pukul 6.50 pagi. Hanya perlu beli EZpay tiket sebesar 50.000 Rial dan bisa dipakai berkali-kali. Transportasi di Iran sangat murah dan nyaman. Dan Metro mulai dibangun di Iran setelah revolusi, sekitar tahun 90an.
Ngeteh dengan Gula Saffron
Si pria Turki mentraktir segelas teh panas, dan uniknya di Iran minum teh dengan ‘saffron candy’ pengganti gula. This Saffron candy is just so cute, I love it.. Karena Saffron Candynya tersisa satu, kita gantian mengaduk teh dengan Saffron Candy sampai lumer dan habis.

Jarak tempuh dari bandara ke pusat kota dengan Metro lebih kurang 1.5 jam, awal-awal perjalanan sebelum ganti kereta di salah satu stationnya kita melihat matahari terbit dari balik jendela kereta, “indahnya”, saya bersorak.
Suku Hazara di Metro
Dan yang menarik dari naik transportasi umum di suatu negara, kita bisa bertemu aneka ragam wajah lokal. Mungkin banyak yang salah kaprah, kalau orang Iran itu seperti orang Arab. Jangan sekali-kali menyamakan orang Iran dengan Arab di depan orang Iran, mereka bisa sangat tersinggung. Orang Iran dan Arab saling tidak menyukai, tapi orang Iran saling menyukai dengan orang Turki dan Armenia.
Si pria Turki berbisik ke saya dalam bahasa melayu-Indonesia;” Rahma tau bapak di depan kita ini dari suku apa?” Saya diam-diam melirik dengan perlahan ke si bapak yang sedang berdiri di depan kita, ada perpaduan wajah Asia Barat dan mata sipit seperti etnis Cina.
Saya menjawab dengan berbisik; “yes,.. Hazara”, kalau pernah baca buku ‘The Kite Runner’ karangan Khaled Hosseini pasti tau dengan suku Hazara, suku yang ditindas oleh suku Pashtun di Afghanistan.
Suku Hazara berbeda dengan Pashtun yang memeluk Shia Islam, sedangkan Pashtun memeluk Sunni Islam. Di Afghanistan mereka selalu didiskriminasi oleh Sunni karena mereka minoritas, Shia.
Berpisah dengan Teman Baru Turki
Setelah obrolan yang sangat menarik dengan si Pria Turki dan bertukar Whatsapp dan Instagram, kita berpisah. Saya harus turun di stasiun Shohada-ye Hatom-e Tir untuk beristirahat di hostel yang sudah saya booking.

The Adventure Begins
Graphic art di dalam Metro seperti bermuatan politik.

Keluar dari Metro Station, akhirnya saya baru sadar kalau cuaca di luar sangat dingin dan berjalan lebih kurang 3 menit saja cukup membuat saya menggigil dan bibir mejadi beku. Saya masuk ke dalam Bank di sisi jalan untuk mempelajari peta di mana posisi tepatnya hostel yang sudah saya booking beberapa hari lalu.
Karena menggunakan VPN, GPS saya lemot sekali dan terpaksa kembali belajar membaca peta secara manual, tapi tak apa.. kadang teknologi membuat kita bodoh dengan fitur-fitur manjanya, dengan teknologi GPS kita selalu disuapin yang membuat kita kehilangan insting.
Menurut peta, keluar dari metro station saya harus jalan lurus sepanjang ‘Karim Khan Zan boulevard’ beberapa ratus meter lalu belok kiri ke ‘South Kheramands Street’. Karena dingin dan otak saya membeku (ngeles), akhirnya saya nyerah dan bertanya ke bapak-bapak yang sedang lewat, menunjukkan alamat dari print out booking hotel. Si bapak dengan bahasa isyarat karena tidak bisa berbahasa Inggris menyuruh saya mengikuti dia, dan saya diantar sampai ke belokan jalan menuju hostel.
Orang Iran sangat baik sekali, saya hanya bisa bilang terimakasih dengan senyum lebar.
Setiba di Hostel
Setiba di depan pintu hostel dengan jari-jari yang sudah membeku, saya menekan bel pintu utama. Terdengar langkah kaki dari dalam dan pintu terbuka, seorang pria Iran menyambut lalu saya menyodorkan print out bookingan hostel, dengan senyuman di pagi yang dingin ia berkata; “Welcome to Iran”, kemudian saya dipersilakan duduk di kafe hostel, sementara itu ia mulai membuatkan kopi panas serta Iranian breakfast. Padahal saya belum bayar sama sekali.

Kopi penyelamat kala ditusuk-tusuk dingin pagi.


Breakfast di Iran berupa roti, cream cheese, tomat segar dan ketimun.
Dan beginilah pemandangan dari balik jendela di kafe hostel ini, ada beberapa ekor kucing di luar sana. Kalau saja cuaca pagi itu tidak 5 derajat celsius mungkin saya sudah lari keluar, leyeh-leyeh di ayunan sambil bermain dengan kucing-kucing mereka.


Dua hari pertama saya menginap di female dorm, dan bertemu beberapa female solo traveler tapi mereka dari Korea Selatan. Salah satunya, seorang guru di Korea yang juga pernah traveling sendirian ke Cuba. Saya salut.
Kalau ke Tehran, ‘See You in Iran’[hostel sangat saya rekomendasikan. Disamping mereka menyediakan breakfast yang sehat ala timur tengah penuh dengan tomat, krim keju dan roti Iran, lokasinya juga menarik di pusat kota. Tidak jauh dari the former US Embassy yang sepanjang trotoar penuh dengan Mural tentang hubungan Amerika dan Iran, mural-mural yang sangat offensive menghina Amerika Serikat dan menyanjung rezim Khameini, juga ada beberapa taman yang sangat luas.
Untuk female dorm saat saya menginap; 12 Euro/malam.
Beralamat;No. 2, Vahdati-Manesh (3rd) Dead End, South Kheradmand St., KarimKhan Ave, Tehran
See You in Iran (SYI) is an economic, social, and cultural travel platform helping to build new connections between Iranians and non-Iranians, as well as promoting more nuanced understandings of Iran.This platform, both physical and online, aims to intervene in the common connections and imaginations of Iran. The main source of connections and imaginations is currently structured by the global ‘Iranophobia’ project, endorsed by Western media and political elites. SYI aims to help change these forms of connections and imaginations, by enabling creative, tangible, and personal connections among people and by opening up new spaces for creation, interaction, and organization inside Iran.
PENTING;
Sangat direkomendasikan menunjukan booking hostel di imigrasi daripada menunjukan alamat rumah kenalan di Iran atau couchsurfing, saya hanya booking satu malam hostel di Tehran, dan selanjutnya hanya walk in atau google dulu satu hari sebelum memutuskan kota tujuan.
Untuk tetap ‘exist’ di Iran, biar bisa update di Twitter dan Facebook, saya pakai Free VPN; VPN365. Install sebelum ke Iran di smartphone.
Akhirnya, menapakkan kaki di Iran setelah beberapa drama, dan negara ini tampak tenang dan damai. Tak menemukan kerusuhan meski cuaca sangat dingin tapi mereka masih bisa ramah dan menolong. Tunggu postingan selanjutnya tentang ibukota Iran, Tehran.
Pesan saya sebagai traveler, seandainya ada demonstrasi dan kerusuhan di Iran, sebaiknya menjauh dari keramaian. Karena sebagai turis kemungkinan besar kita bisa dianggap mata-mata atau kalau lagi sial, disapa peluru nyasar.
Stay Tuned for other blogs about Iran.
